0

Cerita Pengamalan Pertama Bermain Sek

Agen poker, judi poker

Cerita Pengalaman bermain sek ini merupakan pelengkap dari serangkaian cerita sek yang ada pada postingan ini, karena itu anda akan merasa termancakan dengan membaca berbagai macam kategori cerita terlebih cerita romantis.

Langsung saja anda simak sebuah cerita pengamalan bermain sek ini yang saya dapatkan secara langsung dari situs internet, namun sebelum nya jangan lupa juga bagi anda untuk membaca koleksi terbaru kami cerita panas dewasa diartikel yang lain. Dan inilah cerita selengkap nya tentang pengamalam pertama bermain sek sebagai berikut :

Cerita Pengamalan Pertama Bermain Sek

Dengan baju kerjanya tante Juliet terlihat sangat cantik dan seksi. Apabila ia sedang melepas blezernya, buah dadanya tampak padat, ukurannya sedang-sedang saja. Karena ia selalu memakai rok span mini, maka pantatnya terlihat padat dan kencang, karena tercetak dengan sangat jelas di rok spannya yang ketat. Sering kali ketika aku main ke kantornya. Pada waktu itu aku sedang duduk di sofa dan sedang membaca majalah. Aku tidak sengaja melirik ke arah betis tante Juliet yang sangat mulus dan indah, tante Juliet juga selalu memakai sepatu hak tinggi warna hitam yang seksi, sehingga menambah keindahan kaki dan betisnya.

Pernah suatu kali ketika aku sedang melirik betis indahnya tante Juliet, tanpa kusadari ia mengetahuinya dan melihat ke arahku. Begitu aku tiba-tiba sadar dan melihat ke arahnya, aku malu sekali, jantungku berdegup kencang. Namun tante Juliet justru tersenyum kepadaku, yang malah membuatku makin jadi salah tingkah. Tante Juliet memang orangnya ramah dan baik hati, bahkan ia terkadang memberiku hadiah-hadiah kecil seperti mobil. Namun tetap saja apabila aku sedang diajak bicara olehnya, jantung ini berdebar-debar, entah kenapa. Peristiwa yang sangat dahsyat bermula pada saat aku mampir lagi di kantornya. Hari itu sekitar jam 10 pagi, dan aku sedang duduk-duduk sambil baca majalah, namun tiba-tiba tante Juliet datang dengan pakaian kerjanya yang sexy seperti biasa.

“Eh, tante..?”, sapaku.
“Son.. kamu lagi ngapain..”tanyanya.
“Lagi baca majalah tante..”jawabku.
“Majalah apa ayo.. jangan-jangan kamu baca majalah porno ya?”tanyanya penasaran.
“Kalau ya.. emang kenapa tante.. nggak boleh ya..”jawabku.
“Nggak pa-pa koq.. itu berarti keponakan tante udah gede.. ya khan..”katanya.
“Ya.. tante punya Sony udah gede lo.. kepalanya lucu kayak ‘Helm NAZI’..”kataku mancing.
“Apanya yang gede.. anak manis.. tante nggak ngerti..”tanyanya lagi.
“Ini tante burung Sony.. udah gede lo..”kataku sambil nunjuk ke arah selangkanganku.
“Ahh.. kamu nakal ya.. entar tante bilangin ama om kamu.. baru nyaho’ kamu..”katanya.
Lalu, tante Juliet kembali bekerja.

Di dalam ruang kerja kantor, tante Juliet bekerja menggunakan komputernya, sedangkan aku sendiri bosan baca majalah lalu bermain game dengan komputerku, tepat di sebelah meja tante Juliet. Saat itu kulihat tante Juliet sedang sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja kesempatan ini kugunakan sebaik-baiknya. Aku menikmati kecantikan tanteku sepuasku. Keperhatikan wajah tante Juliet yang begitu cantik, lalu buah dadanya yang padat. Karena tante Juliet menggunakan rok span yang mini, maka ketika ia duduk dengan menumpangkan kakinya, pahanya yang putih mulus itu langsung terlihat, juga betisnya yang indah, kutatap habis-habisan.

Namun tiba-tiba tante Juliet menatapku sambil tersenyum menggoda,” Lagi ngeliatin apa kamu, Sony..?”katanya.
Dag.. dig.. dug.. derr! Astaga.., aku benar-benar kaget, jantungku serasa copot, aku sangat panik, dan..
“Eh.., anu.., ehm.., nggak kok tante..”, jawabku terbata-bata.
“Kamu nggak usah bohong sayang.. Nggak apa-apa kok, kalau kamu suka ama tante..”, katanya sambil tersenyum nakal.
Namun tante Juliet malah berdiri ke arah pintu dan menguncinya, lalu menghampiriku dan berdiri
tepat di depanku, bau harum parfumnya terasa olehku. Tentu saja aku jadi makin berdebar-debar nggak karuan.
Lalu..
“Son.., menurut Sony, tante cantik dan sexy nggak sih..?”, tanyanya menggoda.
“Eh.. engg.. iya.. tante cantik dan sexy.. malah jauh lebih cantik dari Tamara Maen Sky” jawabku becanda sambil menunduk.
“Ahh.. yang bener Son.. ee.. kalau begitu Sony mau dong kalau tante Juliet minta tolong?” katanya sambil mengecup pipiku.
Wow.. Perasaanku saat itu benar-benar campur-aduk, aku merasakan kelembutan bibirnya, namun bercampur dengan grogi dan bingung. Aku hanya bisa mengangguk saja. Lalu, tante Juliet memegang tanganku dan menariknya dengan lembut, sehingga aku bangun dari dudukku.
“Son.., ayo sini ikut tante.., tante mau ajarin Sony sesuatu..”, katanya sambil menuntunku berjalan ke arah meja kerja yang kosong. Aku mengikuti semua kemauan tanteku yang genit ini.
“Nah anak manis.., sekarang kamu berdiri di sini dan diam dulu yah..” katanya. Aku berdiri dengan bersandar pada meja. Lalu tiba-tiba tante Juliet mengecup bibirku dengan lembut, aku benar-benar kaget, tapi rasanya benar-benar nikmat, bibir tante Juliet terasa lembut dan basah.

Aku hanya bisa diam saja sambil memejamkan mata, dan terus-terang saat itu otongku langsung naik. Kemudian, tiba-tiba tangan tante Juliet, bergerak menuju celana, kayaknya dia mau melepasnya.
“Tante, aduhh.. Sony mau diapain..?”, tanyaku gugup.
“Udah dong ahh.. kamu nurut aja ya.. percaya deh sama tante, pasti nanti kamu suka..”, bujuknya sambil kembali tersenyum nakal.
Lalu, tante Juliet mulai berlutut dihadapanku, dan mulai melepas resletingku, dan..
“Tante.. jangan tante.. jangan.. ohh..”, aku sungguh terasa panas-dingin, namun tante Juliet tidak memperdulikanku ia malah sibuk sendiri, nampaknya nafsu birahinya sudah tak bisa lagi dikendalikan. Setelah resletingnya terbuka, lalu tante Juliet melorotkannya, karena aku tidak pernah memakai CD(habis gerah dan agak gatel-gatel gimana gicu..), langsung saja otongku terjulai keluar.

“Wow.. besar juga punya kamu Son..”katanya sambil menatap otongku dengan tatapan buasnya. “Ohh.. tante jangann..”, ujarku lirih dengan gemetar, lututku terasa lemas. Tante Juliet yang tahu akan keadaanku lalu memegang pinggangku, dan menyuruhku naik, duduk di meja.
Lalu, tante Juliet memegang otongku yang sudah tegang itu. Dan.. ahh.. genggaman jari-jari lentik tante Juliet terasa sangat lembut di otongku.. Tiba-tiba dengan lembut tante Juliet, menjilat kepala otongku perlahan,
“Ahh.. taanntee.. ” jeritku lirih. Rasanya sulit dilukiskan, pokoknya bergetar seluruh tubuhku, saat lidah tante Juliet yang lembut menyapu permukaan kepala otongku. Lalu, tanpa sungkan-sungkan lagi tante Juliet langsung mengulum otongku, benar-benar gila rasanya..

“Ahh.. tantee.. aah.. ohh..” aku mengerang-ngerang, tak karuan. Tante Juliet terus mengulum-ngulum, sambil mengocok-ngocok, dan menyedot-nyedot otongku. Ruar biasa rasanya.. tak terbayangkan nikmatnya.. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan, yang akan keluar dari tubuhku. Aku makin menggila mengerang-ngerang, tante Juliet yang rupanya tahu waktunya telah tiba, langsung menyedot otongku kuat-kuat dan..
“Ahh.. taann.. aargghh..”, aku menjerit kencang, dan air maniku muncrat menyembur keluar, untuk pertama kali aku merasakan puncak kenikmatan yang tak terbayangkan bersama tanteku. Lalu, tubuhku terkulai lemas.. tergeletak di atas meja.. Namun air maniku yang tadi menyembur keluar di dalam mulut tante Juliet malah disedot, dihisap, dan ditelannya.

Nampaknya tante Juliet rakus sekali dengan air maniku, bahkan karena saking banyaknya ada air maniku yang meleleh keluar dari mulutnya, dan melumuri sekitar bibirnya, dan dengan menggunakan lidahnya tante Juliet menyapunya semua lalu menelannya.
“Wow.. punyamu enak sayang.. gimana rasanya.. enak khan.. “katanya sambil terus menjilati otongku.
“Aduhh.. Sony rasanya seperti orang mabuk.. tapi enak tante..”kataku.
Lalu, dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan ke sofa panjang di ruangan itu, dan aku langsung rebah disitu dan terlelap..
Sekitar 1/2 jam aku tertidur, ketika terbangun aku merasakan suatu perasaan yang senang. Aku melihat tante Juliet masih bekerja. Aku melihat dia melepas sepatunya.. ohh.. sungguh indah kakinya. Setelah itu nampaknya perkerjaannya sudah hampir selesai.

Setelah pekerjaan tante selesai, dan mematikan komputernya, ia menghampiriku.
“Son.. badan tante pegel nih, pijitin dong.. sayang..?”, pintanya.
“Iya tante..” jawabku.
Tante Juliet langsung terlungkup di sofa panjang yang satunya. Aku tertegun dengan bentuk tubuh tanteku, ohh begitu lansing dan bokongnya yang besar ohh.. serta kakinya yang sexy.. ohh.. “Ayo.., kok malah bengong sih..”, seru tante.
“Eee.. iya tante..”kataku pelan.
Lalu, kuusap pelan-pelan pundak tante, lalu perlahan kupijit-pijit, lalu turun pelan-pelan ke punggungnya. Ketika hampir mencapai ke dua buah pantatnya yang montok itu, aku agak ragu.
“Ayo Son, jangan berhenti dong..” serunya.
Dengan agak berdebar kutempelkan kedua telapak tanganku ke buah pantatnya yang padat berisi itu. Wah, sungguh empuk sekali lalu kuremas-remas perlahan,
“Hmm.. nah gitu dong.. pintar kamu Son..” kata tante Juliet sambil merasakan nikmat.
Setelah agak lama bermain di pantat tante Juliet, tanganku kembali merayap menyelusuri paha bagian belakang dan betisnya. Wah.. betis indah tante Juliet yang biasanya hanya bisa kulihat dan kubayangkan saja, sekarang kuusap-usap dan kuremas-remas dengan lembut, sungguh halus sekali rasanya, mulus dan lembut.. Kemudian tante Juliet bangun dari terlungkupnya, dan kini duduk bersandar di sofa.

“Son, tolong lepas sepatu tante..!” perintahnya.
Akupun melakukan perintahnya, melepas sepatunya dengan hati-hati. Setelah dilepas aku lihat ujung kakinyapun sangat halus dan mulus.
“Son.., kamu mau kan.. jilatin kaki tante..!”perintahnya.
Aku ragu tapi berikutnya tanpa ragu lagi aku ikuti perintahnya. Aku jilat telapak kaki tante Juliet yang mulus itu, lalu kujilatin pula tumitnya yang berwarna merah jambu itu. Baunya khas tapi nggak bau kayak kakiku.
“Ehmm.. kamu nakal ya..”, tante Juliet kegelian. Lalu,
“Terus naik ke atas dong sayang..” pintanya lirih.
Dari telapak kaki dan tumitnya, jilatanku naik ke atas. Kujilati betis mulus dan indah tante Juliet, benar-benar lembut sekali terasa di lidahku. Jilatanku terus naik ke atas, kusingkapkan setengah rok spannya ke atas, lalu kujilati paha tante Juliet, membuatnya terus menerus merintih kegelian tapi pasti nikmat dong.

“Son.., tolong bukain CD tante yah..”, lalu tante Juliet menyingkapkan seluruh roknya ke atas,
sehingga CD-nya yang berwarna putih nampak sangat jelas di depanku. Uhuii..!, ternyata di bagian tengah CD-nya telah basah, rupanya tante Juliet sudah sangat terangsang. Tanpa membuka roknya yang disingkapkan ke atas, dengan hati-hati kuturunkan CD tante Juliet. Wah.. luar biasa.. baru kali ini aku menyaksikan yang secara langsung memek seorang wanita. Memek tante Juliet sangat indah, bulu-bulunya sangat lebat, bentuk bukit memeknya cembung, di tengahnya terdapat garis bibir memek yang berwarna kemeraha-merahan, sangat merangsang birahi, apalagi di pinggirannya telah nampak basah oleh cairan birahinya.

“Ayo Son, jilatin memek tante ya.. cepet ya.. udah nggak tahan nih..” serunya.
Lalu, aku dekati memek tante Juliet, bau harum birahinya sangat keras tercium, mula-mula dengan perlahan aku mulai menjilati pinggiran memeknya.
“Ssshh.. aahh.. ya gitu Sonn.. aahh.. teruss.. ohh..”, tante Juliet mendesis-desis kegelian dan nikmat. Tante Juliet duduk sambil membuka kakinya lebar-lebar selonjoran di sofa, sementara aku menjilati memeknya yang udah banjir bandang. Aku terus menjilati pinggiran memek tante Juliet yang telah basah itu, rasanya asin-asin enak.. Setelah pinggiran memeknya, aku mulai berpindah menjilati tengahnya, kulihat di bibir memek tante Juliet yang masih rapat itu terdapat cairan basah, lalu aku jilat bagian tengah yang memanjang di memeknya, lalu..
“Ssstthh.. teruss.. ohh..”tante Juliet mendesis panjang.
Lalu kujilati bagian dalam memeknya, kukorek dengan lidah seluruh dinding bagian dalam memeknya untuk mendapatkan cairan memeknya, sehingga membuatnya menggelinjang-gelinjang,..
“Sonn.. aahh.. aahh..”tante Juliet terus mengerang-ngerang.

Lalu, dengan jariku aku renggangkan kedua bibir memek tante Juliet, lalu sedikit diangkat ke atas, maka tampaklah ujung clitnya yang mungil yang berwarna pink. Lalu dengan sekali jilatan panjang, aku jilat itu, dan..
“Aaauuhh..” tante Juliet langsung menjerit, ia tersentak kaget.
“Sonn.. kamu pintar sayang.. hhmm..?”, tanyanya sambil tetap mengerang.
“Gimana tante.. rasanya..”, sahutku.
“Enak sayang.. ayo teruss..”, katanya sambil mengerang lagi.
Aku terus menjilati clitnya, kugosok dengan lidahku, membuatnya semakin gila, menjerit-jerit dan
menggelinjang-gelinjang, dan..
“Aaahh.. ahh.. aarghh.. eehhmm..”, erangnya lagi.
Lalu kusedot tante Juliet dengan satu sedotan panjang, tiba-tiba tante Juliet langsung menjerit keras, “Aaakkhh.. tantee.. keluarr.. ohh..”, badannya mengejang, bergetar, kedua pahanya dirapatkannya ke kepalaku, dan tangannya meremas sofa itu dengan kuatnya.

Tante Juliet sedang merasakan puncak kenikmatan orgasme yang luar biasa, lendir hangat orgasmenya keluar dari dalam memeknya, dan aku sedot lagi memeknya kuat-kuat, membuat erangannya semakin panjang, “Aakhh.. Sonn.. eemmhh.. eemhh..”, dan akhirnya tante Juliet tergeletak lemas.
Setelah terbaring lemas di sofa beberapa saat, tante Juliet kembali bangkit, lalu menarikku ke sofa, dan menciumku, melumat bibirku, lalu lidahnya didesakannya masuk ke mulutku. Aku yang belum berpengalaman menerima saja. Lidah tante Juliet bermain di dalam mulutku, mengait-ngait lidahku, Wah.. rasanya.. geli, nikmat, dan basah..

Kemudian tante Juliet melepaskan lumatannya, lalu melepaskan kaosku, sehingga kini aku telanjang bulat. Kemudian tante Juliet mendorong badanku agar aku terlentang di sofa. Ia menatap otongku yang sudah mulai bangun kembali, digenggamnya batang otongku, yang langsung saja membuatnya makin mengeras, lalu di kocok-kocoknya. Mulanya perlahan, lama-kelaman makin cepat, Wah.. rasanya benar-benar aduhai.. Lalu, tante Juliet melumat batang dan kepala otongku, Waah.. rasanya semakin ruar biasa. Lalu, tante melepaskan lumatannya di otongku, lalu tante Juliet mulai melepaskan pakaian kerjanya. Aku bangkit dan terduduk di sofa. Melihat pemandangan itu, aku jadi deg-degan, namun kali ini sedikit bercampur nafsu. Dan akhirnya tante Juliet membuka seluruh pakaiannya, termasuk BH dan CD-nya, sehingga ia kini benar-benar telanjang bulat.

Wah, ruar biasa indahnya tubuh tante Juliet yang putih mulus, sangat montok dan seksi. Aku sekarang benar-benar super terangsang. “Gimana Son, kamu suka tubuh tante.. kan.. pasti kamu belum pernah melihat langsung cewek telanjang, iya kan..?”, tanyanya sambil menggodaku.
Aku hanya tersipu sambil menganggukan kepala dengan jempol tanganku kukenyot, tante Juliet tertawa cekikikan..
Lalu tante Juliet meraih tanganku, dan diletakan diatas buah dadanya yang montok. Wuih.. walau
aku deg-degan, tapi rasanya sangat empuk dan lembut sekali..
“Nah Son, kamu remas tetek tante yach..”, katanya.
Tanpa disuruh dua kali aku langsung meremasnya dengan perlahan.
“Hmm..”, tante Juliet mendesah.
Aku terus meremas-remas dengan nikmat, dan..
“Hmm.. stthh.. aahh.. teruss.. Sonn.. ohh..”, tante Juliet terus mendesah.
Namun rupanya, tegangan birahi tante Juliet sudah sangat super tinggi. Tiba-tiba aku langsung diterjangnya, dipeluk, serta dilumatnya bibirku, dengan penuh nafsu. Benar-benar baru kurasakan yang namanya cumbuan dan pelukan wanita, apalagi kita sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, jantung ini berdetak kencang. Tangan tante Juliet merayap mencari otongku, lalu digenggamnya batang otongku.

Lalu, sambil dalam posisi mendudukiku, tante Juliet mengarahkan ujung kepala otongku ke memeknya.
“Tante, Sony mau diapain, ja.. jangan dimasukin tante.. Sony.. masih perjaka..”, kataku terbata-bata.
“Nggak pa-pa sayang.. sekarang kamu nurut tante aja ya..”, kata tante Juliet sambil tersenyum menggodaku.
Lalu, tante Juliet langsung menekan memeknya ke kepala otongku, dan..
“Engghh..”, aku mengerang merasakan seretnya otongku masuk ke memek tante Juliet. “Stthh.. ohh..”, tante Juliet pun rupanya merasakan gesekan otongku dengan memeknya. Walaupun telah basah oleh lendir memeknya, namun memek tante Juliet memang masih sempit, jadi cuma sepertiga batang otongku yang baru berhasil masuk. Namun tante Juliet terus memaksakan batang otongku masuk, sampai aku sendiri takut kalau batang otongku lecet.
“Stthh.. aahh..”, akhirnya seluruh batang otongku masuk ke dalam memek tante Juliet. Sungguh luar biasa, nikmat sekali rasanya batang otongku di dalam memek tante Juliet, hangat, lembab, basah, dan serasa dihisap masuk ke dalam lubang sempit yang berulir.

Kemudian tante Juliet mulai menaik-nurunkan bokong dan pinggulnya, tante Juliet mengocok otongku di dalam memeknya.
“Aaahh.. enaakk.. oii.. aahh..”, aku benar-benar merasakan nikmatnya yang pertama kali dengan tanteku sendiri. Tante Juliet pun tak kalah menjerit-jeritnya, “Sstthh.. Aaahh.. Sonn.. aahh..”erangnya.
Tante Juliet tampaknya seperti sudah lupa daratan, dia terus menggoyangkan bokong dan pinggulnya keatas-kebawah, maju-mundur, kiri-kanan, meliuk-liukan pinggulnya, sambil mengerang-ngerang dan menjerit-jerit.
“Tann.. jangan keras-keras.. otong Sony sakit..”kataku.
“Sakit.. ya deh.. maafin tante sayang.. “katanya sambil terus bergoyang lembut.
Sampai setelah sekitar 15 menit, tiba-tiba tante Juliet menjerit kencang, badannya mengejang, ditekannya memeknya ke otongku kuat-kuat, sambil mencengkram erat ke sofa.
“Sonn.. Aaakkhh..”erangnya.
Aku merasakan memek tante Juliet dengan sangat kuat menjepit dan mengempot otongku, rasanya memang sangat ruar biasa nikmat, dari dalam memeknnya kurasakan keluar banyak sekali cairan. Karena merasakan jepitan dan empotan yang sangat dahsyat, tiba-tiba aku merasakan kembali sesuatu yang sangat tak tertahankan, dan akhirnya..
“Taann.. aakhh..”, aku menjerit dengan kerasnya.
Aku merasakan nikmatnya rasa yang luar biasa, yang tidak bisa kulukiskan, air maniku muncrat dengan derasnya di dalam memek tante Juliet. Tante Juliet tersenyum nakal kepadaku, lalu memelukku, aku merasa sangat lemas.. Dan
akhirnya kami berdua tertidur sambil berpelukan telanjang di sofa itu.. Ketika aku bangun, tante Juliet tersenyum kepadaku, dan berkata..
“Sonn.., tenyata kamu hebat, tante nggak nyangka keponakan tante udah pandai..”katanya sambil mengecup bibirku. Aku hanya tersipu saja.
“Lain kali kamu mau kan, tante ajarin lagi..?”katanya.
“Iya tante.. Sony nurut tante aja..”, jawabku sambil menggangguk.
“Nah, gitu dong. Itu baru ponakan tante tersayang..”katanya lagi.

Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hubungan seks. Bahkan pernah dengan alasan mengajakku jalan-jalan, tante Juliet pernah mengajakku ke apartement miliknya dan kami pun melalukannya lagi, pokoknya ruar biasa deh. Hal-hal seperti itu terus kami lakukan sampai akhirnya aku menikah dan pindah ke Inggris. Tepatnya di kota Liverpool karena aku menjadi pemain inti dari klub Liverpool. Begitulah kisah pengalaman seks-ku yang pertama kali dahulu, yang tak dapat kulupakan..

Cat:

Umum, Setengah Baya, Pengalaman Pertama | Time: 10:54 pm (UTC+8) No Comments »

Ganasnya Ibu Kostku – 1

Nama saya adalah Aldo. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di kota Bogor. Saya memiliki pengalaman yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Kejadian itu terjadi pada waktu saya masih kuliah di tingkat 1 semester ke-2.

Saat itu saya tinggal di sebuah rumah yang oleh pemiliknya disewakan untuk kost kepada mahasiswa. Saya tinggal bersama 2 orang mahasiswa lain yang keduanya merupakan kakak kelas saya. Pemilik rumah kos itu adalah seorang Dosen yang kebetulan sedang studi di Jepang untuk mendapatkan gelar Doktor. Ia telah tinggal di Jepang kurang lebih 6 bulan dari rencana 3 tahun ia di sana.

Agar rumahnya tetap terawat maka ia menyewakan beberapa kamar kepada mahasiswa yang kebetulan kuliah di dekat rumah itu. Yang menjadi Ibu kost-ku adalah istri dari Dosen yang pergi ke Jepang tersebut. Namanya sebut saja Intan. Aku sering menyebut ia Ibu Intan. Umurnya kira-kira sekitar 30 tahunan dengan seorang anak umur 4 tahun yang sekolah di TK nol kecil. Jadi di rumah itu tinggal Ibu Intan dengan seorang anaknya, seorang pembantu rumah tangga yang biasa kami panggil Bi Ana, kira-kira berumur 50 tahunan, aku dan kakak kelasku bernama Kardi dan Jun.

Ibu Intan memiliki tubuh yang lumayan. Aku dan kedua kakak kelasku sering mengintip dia apabila sedang mandi. Kadang kami juga sering mencuri-curi pandang ke paha mulusnya apabila kami dan Ibu nonton tivi bareng. Ibu Intan sering memakai rok apabila dirumah sehingga kadang-kadang secara tidak sadar sering menyingkapkan paha putihnya yang mulus. Ibu Intan memiliki tinggi kurang lebih sekitar 165 cm dengan bodinya yang langsing dan putih mulus serta payudara yang indah tapi tak terlalu besar kira-kira berukuran 34 B (menurut nomer dikutangnya yang aku liat di jemuran). Ibu Intan memiliki wajah yang lumayan imut (mirip anak-anak). Dia sangat baik kepada kami, apabila dia menagih uang listrik dan uang telepon dia meminta dengan sopan dan halus sehingga kami merasa betah tinggal di rumahnya.

Pada suatu malam (sekitar bulan maret), kebetulan kedua kakak kelasku lagi ada tugas lapangan yang membuat mereka mesti tinggal di sana selama sebulan penuh. Sedangkan anak Bu Intan yang bernama Devi lagi tinggal bersama kakeknya selama seminggu. Praktis yang tinggal di rumah itu cuma aku dan Ibu Intan, sedangkan Bi Ana tinggal di sebuah rumah kecil di halaman belakang yang terpisah dari rumah utama yang dikost-kan. Malam itu kepalaku sedikit pusing akibat tadi siang di kampus ada ujian Kalkulus. Soal ujian yang sulit dan penuh dengan hitungan yang rumit membuat kepalaku sedikit mumet. Untuk menghilangkan rasa pusing itu, malamnya aku memutar beberapa film bokep yang kupinjam dari teman kuliahku.
“Lumayan lah, mungkin bisa ngilangin pusingku”, pikirku.
Aku memang biasa nonton bokep di komputerku di kamar kosku apabila kepala pusing karena kuliah.

Pada saat piringan kedua disetel, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara pintu kamarku terbuka.
“Hayo Aldo, nonton apaan kamu?” Ibu Intan berkata padaku.
“Astaga, aku lupa menutup pintu kamar” gerutuku dalam hati.
Ibu Intan telah masuk ke kamarku dan memergoki aku sedang nonton film bokep. Aku jadi salah tingkah sekaligus malu.
“Anu bu, aku cuma..” jawabku terbata-bata.
“Boleh Ibu ikut nonton?” katanya bertanya padaku
“Boleh..” jawabku seakan tak percaya kalo dia akan nonton film bokep bareng aku.
“Dah lama nih Ibu ga nonton film kaya’ gini. Kamu sering nonton ya?” katanya menggodaku.
“Ah, gak bu..” jawabku
“Hmm.. bagus juga adegannya” dia berkata sambil memandang adegan yang berlangsung.

Akhirnya kami sama-sama menonton film bokep tersebut. Kadang-kadang dia meremas-remas payudaranya sendiri yang membuat kemaluanku berdiri tegak. Dia memakai daster putih malam itu kontras dengan kutang dan celana dalam warna hitam. Kadang aku melirik dia dengan sesekali memperhatikan dia yang sesekali memegang kemaluannya dan menggoyangkan pinggulnya seperti cewe yang sedang menahan kencing. Pemandangan itu membuat darahku mendesir dan membuat batang kejantananku berontak dengan sengit di dalam celana dalamku.
Tiba-tiba dia bertanya, “Do, kamu pernah melakukan seperti yang di film tadi ga?”
Aku terkejut mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya.
“Belum” jawabku.
“Ah masa?” tanya dia seakan tak percaya.
“Bener bu, sumpah.. aku masih perjaka kok” jawabku.
“Kalo pacarmu ke kamarmu ngapain aja? ayo ngaku” tanyanya sambil tersenyum kecil.
“Ah ga ngapa-ngapain kok bu, paling cuma diskusi masalah kuliah” jawabku.
“Yang bener.. trus kalian ampe buka-bukaan baju ngapain? emang Ibu ga tau.. ayo ngaku aja, Ibu dah tau kok” tanyanya sambil mencubit pipiku.

Wajahku jadi merah padam mendengar dia berkata seperti itu, ternyata ia sering ngintipin aku ama pacarku.
“Iya deh.. aku emang sering bermesraan sama pacarku tapi ga sampai ML, paling jauh cuma oral dan petting aja” jawabku jujur.
“Ohh..”, katanya seakan tak percaya.
Akhirnya kita terdiam kembali menikmati film bokep. Akhirnya film itu selesai juga juga.
“Do, kamu bisa mijit ga”, tanyanya.
“Dikit-dikit sih bisa, emang kenapa bu?”
“Ibu agak pegel-pegel dikit nih abis senam aerobik tadi sore. Bi Ana yang biasa mijetin dah tidur kecapekan kerja seharian, bisa kan?”
“Boleh, sekarang bu?”
“Ya sekarang lah, di kamar Ibu yah.. ayo”.

Aku mengikuti Ibu Intan dari belakang menuju ke kamarnya. Baru pertama kali ini aku masuk ke kamar Ibu kosku itu. Kamarnya cukup luas dengan kamar mandi di dalam, kasur pegas lengkap dengan ranjang model eropa. Di sebelahnya ada meja rias, lemari pakaian dan meja kerja suaminya. Kamar yang indah.
“Ini minyaknya”, Bu Intan menyerahkan sebotol minyak khusus buat memijat.
Minyak yang harum, pikirku. Aku emang belum pernah mijat tapi saat ini aku harus bisa. Ibu Intan kemudian membuka dasternya, hanya tinggal kutang dan celana dalam hitam yang terbuat dari sutera. Melihat pemandangan ini aku hanya bisa melongok takjub, tubuhnya yang putih mulus tepat berdiri di hadapanku.

“Ayo mo mijit ga? Jangan bengong gitu”.
Aku terhentak kaget. Aku lupa kalo saat itu aku mo mijit dia. Akhirnya dia berbaring telungkup dia atas kasur. Aku mulai melumuri punggungnya dengan minyak tersebut. Aku mulai memijit dengan lembut. Kulitnya lembut sekali selembut sutera, kayanya dia sering melakukan perawatan tubuh, pikirku dalam hati.
“Ahh.. enak juga pijatanmu Do, aku suka.. lembut sekali. ”
Aku memijat dari bahunya sampai mendekati pantat, berulang-ulang terus.
“Do, tolong buka kutangku. Tali kutangnya ga nyaman, ganggu pijatannya” katanya menyuruh aku tuk membuka kutangnya.
Aku membuka tali kutangnya dan Ibu Intan kemudian melepas kutangnya. Sesekali aku memijat sambil menggelitik daerah belakang telinganya.
“Ssshh.. ahh..” dia mendesah apabila daerah belakang telinganya kugelitik dan apabila lehernya kupijat dengan halus.
“Do, tolong pijat juga kakiku ya..” katanya.

Aku mulai meminyaki kakinya yang panjang dan ramping. Sungguh kaki yang indah. Putih, bersih, mulus, tanpa cacat dengan sedikit bulu-bulu halus di betis. Pikiranku mulai omes, aku sedikit kehilangan konsentrasi ketika memijat bagian kakinya.
“Do, tolong pijat sampai ke pangkal paha ya..” pintanya sambil memejamkan mata.
Ketika tanganku memijat bagian pangkal pahanya, dia memejamkan mata sambil mendesah seraya menggigit bibir pertanda dia mulai “panas” akibat pijatanku. Aku mulai nakal dengan memijat-mijat sambil sesekali menggelitik daerah-daerah sensitifnya seperti leher dan pangkal pahanya. Dia mulai menggeliat tak karuan yang membuat kejantananku berontak dengan keras di celana dalamku.

Tiba-tiba dia berkata, “Do, bisa mijit daerah yang lain ga?”
“Daerah yang mana bu?”
Tiba-tiba dia membalikkan badannya seraya membimbing kedua tanganku ke atas payudaranya. Posisi badannya sekarang adalah telentang. Dia hampir telanjang bulat, hanya tinggal segitiga pengamannya saja yang belum terlepas dari tempatnya. Aku tertegun melihat pemandangan itu. Payudaranya yang indah membulat menantang seperti sepasang gunung kembar lengkap dengan puncaknya yang kecoklatan. Aku meremasnya dengan lebut sambil sesekali melakukan “summit attack” dengan jari jemariku mempermainkan putingnya. Seperti memutar tombol radio ketika mencari gelombang.

Ia mulai menggelinjang tak karuan.
“Ahh.. oohh.. sshh”, dia mendesah sambil membenamkan kepalaku menuju payudaranya.
“Do.. Jilatin payudaraku Do.. cepat..”.
Aku mengabulkan permintaannya dengan memainkan lidahku diatas putingnya. Lidahku bergerak sangat cepat mempermainkan putingnya secara bergantian seperti penari samba yang sedang bergoyang di atas panggung.
“Oohh.. yyess.. uukkhh..” Dia terus mendesah sambil mencengkramkan tangannya di pundakku.
Dia memeluku dengan erat. Semakin cepat aku meminkan lidahku semakin keras desahannya. Lidahku mulai naik ke daerah leher dan bergerilya di sana. Bergerak terus ke belakang telinga sambil tanganku memainkan putingnya. Dia terus mendesah dan dengan sangat terlatih membuka baju dan celanaku. Sekarang yang kupakai hanya celana dalam yang menutupi rudal Scud-ku. Kami mulai berpelukan dan berciuman dengan ganasnya. Ternyata dia sangat ahli dalam mencium. Bibirnya yang lembut dan lidah kami yang saling berpagutan membuatku serasa melayang seperti lalat.

Dia mulai menciumi leherku dan sesekali menggigit kupingku. Aku semakin rakus dengan menjilatinya dari mulai leher sampai ujung kaki.
“Aahh..”, aku mendesah ketika tangannya menyusup ke markasku mencari rudalku, mengenggamnya dan mengocoknya dengan tangannya yang lembut.
Dengan bantuan kakinya dia menarik celana dalamku sehingga celana dalamku terlepas. Aku telah telanjang bulat. Terlihat seorang prajurit lengkap dengan topi bajanya berdiri tegak siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh atasannya.
“Oohh.. auhh.. sshh..”, dia terus memainkan prajuritku dengan tangannya.

Tanganku mulai membuka celana dalamnya yang telah basah oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam lobang vaginanya. Terlihat sebuah pemandangan yang indah ketiga segitiga pengaman itu terlepas. Sebuah pemandangan yang sangat indah di daerah selangkangan. Jembutnya yang rapi terurus dan vaginanya yang berwarna merah muda membuat darahku mendesir dan kejantananku semakin menegang.
“Oohh.. nikmaatt.. truss..”, dia berkata sambil mendesah ketika lidahku menggelitik daging kecil di atas lobang vaginanya.
“Oohh.. sshh.. Yess.. truuss..”
Semakin cepat aku memainkan lidahku semakin cepat juga dia mengocok kontolku. Aku terus mempercepat ritme lidahku, badannya semakin bergerak tak terkontrol. Tanpa sadar tangannya membenamkan kepalaku ke selangkangannya, aku hampir tak bisa bernapas. Aku mencium aroma khas vagina yang harum yang membuat lidahku terus menjilati klitorisnya.
“Ohh.. Ssshh.. Ukhh”, dia terus mendesah.
“Do.. ahh.. lebih cepat.. ukhh.. aku mo keluar nih..”
“Ahh..”, terdengar lenguhan panjang dari bibirnya yang mungil.
“Aukhh..”, tiba-tiba badannya menegang hebat.

Kedua tangannya menggenggam kepalaku dengan erat dan vaginanya semakin basah oleh cairan yang keluar. Dia mengalami orgasme klitoris, yaitu orgasme yang dihasilkan akibat perlakuan pada kelentitnya.
“Do, nikmat sekali.. Aku tak menyangka kamu pandai bersilat lidah”, katanya sambil napasnya terengah-engah.
Ketika aku siap untuk menembakkan rudalku, tiba-tiba ia berkata, “Do, aku punya sebuah permainan untukmu”.
“Permainan apa?” tanyaku.
“Pokoknya kamu ikut aja, permainan yang mengasyikkan. Mau?” tanyanya.
“Oke..”, jawabku.

Dia mengambil sebuah slayer dan menutup mataku, kemudian menyuruhku berbaring terlentang dan mengikut kedua tanganku dengan selendang yang telah ia siapkan. Kedua tanganku dan kakiku diikat ke empat penjuru ranjang sehingga aku tak bisa bergerak. Yang bisa aku gerakkan cuma pinggulku dan lidahku. Aku pun tak bisa melihat apa yang dia lakukan padaku karena mataku tetutup oleh slayer yang dia ikatkan. Aku seperti seorang tawanan. Aku hanya bisa merasakan saja. Tiba-tiba aku merasakan lidahnya mulai bergerilya dari mulai ujung kakiku. Trus bergerak ke pangkal paha.
“Ahh”, aku mendesah kecil.
Lidahnya terus bergerak ke ke atas menuju perutku, terus menjilati daerah dadaku.
“Oohh.. Ssshh..”, aku mulai mendesah keenakan. Lidahnya terus naik ke leherku dan mencium bibirku. Kemudian lidahnya mulai turun kembali.
“Ohh.. yyeess.. uukkhh..”, aku mendesah hebat ketika lidahnya bermain di daerah antara lubang anus dan biji pelerku.
“Aahh..”, aku terus mendesah ketika dia mulai menjilati batang kemaluanku dari mulai pangkal sampai kepalanya, terus menerus, membuat tubuhku berkeringat hebat menahan rasa yang amat sangat nikmat.

“Panjang juga ya punya kamu”, Ibu Intan berkata padaku seraya mengulum penisku masuk ke dalam mulutnya.
“Ahh.. eenaakk.. sshh”, aku mendesah ketika batang kejantananku mulai keluar masuk mulutnya.
Sesekali dia menghisapnya dengan lembut. Dia terus mengulum penisku dan semakin lama semakin cepat. Dia memang ahli, pikirku. Tidak seperti kuluman pacarku yang masih minim pengalaman. Ibu Intan merupakan pengulum yang mahir.
“Aahh.. ahh.. ah.. aahh.. sshh.. teruss”, aku memintanya supaya mempercepat kulumannya. Ingin rasanya menerkam dia dan menembakkan rudalku tapi apa daya kedua kaki dan tanganku terikat dengan mataku tertutup.

Tiba-tiba ada sesuatu di dalam penisku yang ingin mendesk keluar.
“Ahh.. sshh.. Bu, aku mo keluarr”, kataku
Mendengar itu, semakin cepat ritme kulumannya dan membuatku tak tahan lagi untuk mengeluarkan spermaku.
“Aaahh..”, aku mengerang hebat dan tubuhku mengejang serta gelap sesaat ketika cairan itu mendesak keluar dan muncat di dalam mulut Bu Intan.
Aku seperti melayang ke awang-awang, rasanya nikmat sekali ingin aku teriak enak.
“Enak juga punyamu Do, protein tinggi”, katanya seraya menjiltai sperma yang tumpah.

Tiba-tiba aku tak merasakan apa-apa. Tak lama kemudian aku mencium aroma khas vagina di depan hidungku. Ternyata Bu Intan meletakkan vaginanya tepat di mulutku dan dengan cepat aku mulai memainkan lidahku.
“Sshh.. truuss.. ahh.. eennaakk..”, ia mendesah ketika lidahku memainkan kembali daging kecil miliknya. Semakin ia mendesah semakin aku terangsang.
Tak lama kemudian prajurit kecilku kembali menegang hebat.
“Aahh.. sshh.. Ukkhh.. yess”, ia semakin hebat mendesah membuat rudalku telah mencapai ereksi yang maksimal akibat desahannya yang erotis.
Lama kelamaan vaginya semakin basah kuyup oleh cairan yang keluar akibat terangsang hebat.
“Aku ga tahan lagi Do”, katanya seraya mengangkat vaginanya dari mulutku.

Dia memindahkan vaginanya dari mulutku dan entah kemana dia memindahkannya karena mataku tertutup oleh slayer yang dia ikatkan kepadaku. Tiba-tiba aku merasakan kemaluanku digenggam oleh tangannya dan dituntun untuk masuk ke dalam sutau lubang hangat sempit dan basah oleh cairan pelumas.

Ahh.. baru pertama kali ini aku merasakan nikmatnya vagina. Meskipun Ibu Intan bukan perawan tapi yang kurasakan sempit juga juga vaginanya. Dengan perlahan Ibu Intan mulai membenamkan kemaluanku ke dalam vaginanya sehingga seluruh kemaluanku habis ditelan oleh vaginanya. Aku merasakan nikmat dan geli yang luar biasa ketika kemaluanku masuk ke dalam vaginanya. Posisiku telentang dengan Bu Intan duduk di atas kemaluanku persis seperti seorang koboi yang sedang bermain rodeo.

Semoga saja cerita pengalaman bermain sek ini bisa memberikan manfaat yang positif bagi anda semua, selebih nya berita terbaru akan selalu menuliskan anda tentang berbagai macam sebuah cerita selamat membaca.

Filed in: Cerita

Recent Posts

Bookmark and Promote!

Silakan Komentar Sobat

Leave a Reply

Submit Comment
© 2016 Berita Terbaru. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
Proudly designed by Theme Junkie.
Page Rank


Agen bola, agen judi